~shuttlecock~

Flash Fiction About Our Hobbies

Senang rasanya berada disni, seperti jauh dari kebosanan dan tak kenal jenuh, aku rela menghabiskan waktu disini. Ya, dilantai dua gedung sekolah TK ku yang tak pernah ku impikan akan terhampar sebuah lapangan badminton pribadi. Dinding – dinding setinggi 8 meter berdiri tegak mengitari dengan lapisan cat hijau muda, polos tanpa ornamen sedikitpun. Lantainya bermandikan warna biru cerah dengan garis – garis putih sebagai marka, ditemani atap dengan rangka baja ringan dan genting fiber silver. Dikedua sisi tengahnya tegak berdiri tiang – tiang penyangga net yang membentang membelah dua bagian. Aku yang sedari tadi terdiam di sudut lapangan ini mulai tertegun dengan 1001 hal yang kutemui disini. Siapa sangka, disini, dilapangan ini aku menemukan berbagai macam peristiwa, kenikmatan, sensasi bahkan pelbagai macam pengalaman yang bisa dijadikan renungan filosofi dalam kehidupan.

Seperti dua hari yang lalu, saat klub Bhineka berlath disini, kakek ku yang kebetulan juga hobi bermain badminton menyempatkan diri untuk melihat mereka berlatih. Saat beliau duduk di bangku penonton, seorang tua menghampirinya. garis keriputnya yang tergores jelas terlihat semakin nampak saat bibirnya mengumar senyum ke arah kakek ku.

” Harlan yah?”, sapanya tegas seakan yakin kalau memang kakek ku adalah orang yang dimaksud.

“iya… maaf,anda siapa yah?’ sedikit raut keheranan muncul di paras tua kakek ku.

“ini aku, Suroso, teman kecilmu. masih ingat?”

guratan keriput di kening kakek ku makin merapat saat ia mulai berfikir sejenak mengingat memori lama yang sekian lama tak pernah lagi terbuka. Hingga sedetik kemudian ia menggoreskan senyum di bibirnya.

“Yaaa ampun!!…kamu Roso toh?! Apa Kabar? Lama sekali kita ga ketemu yah!?”

“Kabar baik. Ya, lama kita tak jumpa. Hampir 20 tahun lalu yah?!”

Dan perbincangan hangatpun terjalin detik ke detik berikutnya. Satu yang aku tahu, ternyata shuttlecock dapat menemukan teman lama.

Pernah pula aku menyaksikan Sabar dan Subur bermain badminton. Kakak beradik ini dulunya tak pernah seakur dan sedekat ini. Sabar tipe orang pendiam yang tak banyak tingkah. Berbeda sekali dengan adiknya Subur, tipikal pria tempramen yang sedikit arogan, hobi berjudi dan mabuk-mabukan. Mungkin Sabar lelah menasehati adiknya untuk berhenti berjudi dan mabuk. Tapi siapa sangka, shuttlecock dapat merubah semuanya. Subur kini sudah mulai meninggalkan kebiasaan buruknya saat suatu hari Sabar memintanya untuk menemaninya dan kembali bermain badminton, karena sebenarnya Subur adalah mantan pemain single yang sempat menjuarai even-even kecil disini. Saat mereka bermain, pukulan Sabar terlihat lebih akurat, bola – bola loop nya terbang sangat jauh dan cepat, smash nya pun akurat. Sedangkan pukulan Subur sangat berantakan dan tak kakuran hingga memudahkan lawan untuk kembali menyerangnya. Saat istirahat setelah dikalahkan pada set pertama, kakak beradik itu duduk di pinggir lapangan sejenak beristirahat sambil menikmati minuman isotiniknya. Idam, temannya yang sedari tadi duduk di kursi penonton kemudian menghampiri mereka. seperti seorang pelatih handal, Idam memberikan beberapa instruksi pada mereka. Dan saat perbincangan berlangsung, tak sengaja aku mendengar perkataan Idam.

Baca Juga :

“Sepertinya berat untuk kalian memenangkan pertandingan ini”. Idam seakan tahu kekalahan pasti ada di pihak Sabar dan Subur. Tapi kemudian, aku mendengar sedikit bantahan dari Subur.

“Dam, disini kami bermain bukan untuk menang, tapi untuk belajar bekerjasama, saling melengkapi, saling percaya dan berusaha sebaik mungkin”.Idam diam, aku beserta penonton lainnya pun melotot heran dan kagum. Siapa sangka, omongan itu keluar dari mulut seorang yang biasa berjudi dan mabuk-mabukan. Dan yang tak kalah menariknya, raut muka Sabar langsung berubah seperti anjing kelaparan mendengar ucapan adiknya. Kini aku yakin, ada ribuan ton semangat yang ada di jiwa sang kakak. Saat mereka kembali kelapangan dan permainan kembaili dimulai, aku seperti menyaksikan ikatan rantai yang tak bisa dipisahkan. Walau pada akhirnya mereka kalah, tapi kini permainan mereka jauh berbeda. Kekompakan, kebersamaan. dan saling melengkapi itu yang mereka suguhkan untuk kami sang penonton.

Dan shuttlecock kembali memberi inspirasi, bahwa bermain bukan untuk menang, tapi untuk berjuang, bekerjasama, saling percaya dan terus melakukan yang terbaik.

Dan hari ini kamis malam jumat, aku tebangun dari lamunan ku saat Tedjo datang menghampiri ku. sepertinya dia sudah siap untuk bermain badminton, kaus olahraga dan celeana pendek hingga sepatunya telah lengkap ia kenakan sedari tadi. Hari ini wajahnya cukup cerah. Mungkin ia sedang sumringah.heee…

“halo bung Romie…ngelamun aja lo, mikirin apa ato siapa?’ sapaannya berbeda dari biasanya. Ini bukan gayanya ia berbicara, aku yang mulai merasa aneh menjawab sekenanya saja.

“heeheehee, ga ngelamunin apa ko”

“anak – anak yang laen blom pade datang yah? klo gitu, lo cepetan ganti pakean n temeni gw latihan”. Semangat sekali dia hari ini. Ia menarik tangan ku agar aku bangkit dari duduk dan mendorong ku untuk berganti pakaian. Saat aku sibuk menalikan sepatu, ia melemparkan sebuah shuttlecock ke arah ku. Sambil menunggu ku ia bercerita.

“hidup ini sepert shuttlecock, bisa terbang dari sisi ke sisi lainnya, seribu kali cambukan raketpun masih sanggup ditahan hingga benar-benar habis waktunya untuk menemani pemainnya karena masa pakainy yang habis, ato karena rusak saat digunakan.Sama seperti kita, hidup berjalan kesana kemari, kuat hadapi apapun masalah dan rintangan, hingga saat nanti waktu kita habis, entah karena umur yang sudah uzur ato karena penyakit yang kita punya, ato apapun lah. Tapi kita manusia bukan shuttlecock, walau ada samanya namun pastilah jauh bedanya. Kalo shuttlecock sudah tak layak digunakan langsung dibuang dan dilupakan namum manusia dikubur dan berharap bisa dikenang. Makanya bung Romie, hiduplah dengan baik agar kelak nanti kita di kenang orang, Betul tidak?” . Dia mengakhiri ucapaannya dengan tertawa lebar.”Cepetan kek make sepatunya,semakin lama bung Romie iket sepatu, semakin sering saya berceloteh. Saya kesini untuk bermain badminton bukan bercerita.” Lalu aku mengambil raket dari dalam tas ku dan meloncat ke lapangan, memulai tepakan demi tepakan bersama Tedjo. Duapuluh menit sudah aku bermain singlle denga Tedjo, karena lelah aku mengajakny untuk beristirahat sejenak. aku mengambil botol minum yang kusimpan diatas meja wasit, kemudian menghampiri Tedjo yang telah dulu duduk di kursi penonton.

“Ko tumben yah anak-anak yang laen belom pade dateng?” tanyaku yang heran pada Tedjo

“entahlah, mungkin mereka sibuk.” Tedjo menjawab sekenanya, mukanya yang bermandi keringat terlihat pucat kelam, mungkin ia terlalu lelah bermain tadi. Aku yang sedari tadi memperhatikan Tedjo masih menyimpan tanya, seperti ada yang beda dengannya hari ini. Lamunana ku buyar saat hp Tedjo berdering. Ia merogoh kantong tas nya dan mengambil hp merah miliknya. Ternyata ada sms untuknya, dan entah apa isi smsnya hingga selesai ia membacanya kemudian ia langsung berpamitan padaku.

“bung Romie, makasih dah nemenin latihan, maaf ga bisa lama-lama,gw harus pulang. ada keperluan mendadak”. secepat kilat ia mengambil perlengkapannya kemudian merapikannya kedalam tas dan sejurus kemudian mengajakku bersalaman sebagai tanda perpisahan.”terima kasih kawan,semoga hari ini kita bisa kenang” . Dan ia berlalu menghilang di balik pintu.

Kini aku kembali sendiri di lapangan ini, mulai melamun dan mencerna hal-hal aneh tentang Tedjo hari ini. Keringat ini beluim berhenti mengalir, nafas ini masih tersengal-sengal, hingga beberapa saat datang sekelompok orang. Teman-teman klub ku yang sdari tadi Tedjo dan aku tunggu. mereka datang bersamaan, namun sepertinya mereka lelah, bingung dan sedih. Entah apa yang menyelimuti mereka.

aku berdiri menghampiri mereka, mengajak mereka bersalaman, mencoba untuk memluai suatu perbincangan.

“kemana aja lo pade?ko jam segini baru nongol?”

“loh, emang lo ga tau Rom? Si Tedjo kan meninggal tadi sore, jadi kita tadi abis melayat dulu kerumah Tedjo”. Ilham bercerita coba menjelaskan alasan mengapa mereka telat datang. Tapi aku tak bisa mencera alasan itu, karena sekarang keringat ku makin deras mengali dan seketika itu kepala ku pening saat cahaya putih itu datang bersamaan.

Entah apa yang terjadi hari ini…..karena kemudian aku diam dalam pingsan.