KRITIK SASTRA FEMINIS DALAM CERPEN MARIA KARYA A. A. NAVIS

  • -

KRITIK SASTRA FEMINIS DALAM CERPEN MARIA KARYA A. A. NAVIS

Category : Bahasa dan Sastra Umum

Trias Aji Mulyana

Pendahuluan

            Dalam kajian sastra, pendekatan feminism sering dikenal dengan kritik sastra feminis. Sejatinya feminism berbeda dengan emansipasi. Emansipasi lebih menekankan pada partisipasi perempuan dalam pembangunan tanpa mempersoalkan hak serta kepentingan mereka yang dinilai tak adil,

sedangkan feminisme memandang perempuan memiliki aktivitas dan inisiatif sendiri untuk mempergunakan hak dan kepentingan tersebut dalam berbagai gerakan, melalui menciptakan karya sastra. Tulisan-tulisan yang bertemakan feminis tidak dapat dipungkiri banyak ditulis oleh penulis-penulis perempuan sebagai pelaku feminism itu sendiri. Sebut saja Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, dan Oka Rusmini yang tulisannya mengangkat isu perempuan. Namun bukan berarti penulis laki-laki tidak ada yang mengangkat isu perempuan tersebut. Sebut saja Eka Kurniawan di masa sekarang dan di masa jauh sebelumnya ada A. A. Navis yang memiliki kumpulan cerpen dan isinya mengangkat tema perempuan, serta Ahmad Tohari dengan Ronggeng Dukuh Paruk.

Haji Ali Akbar Navis

Feminism adalah pemikiran, kesadaran kritis tentang ketertindasan perempuan, dan aksi untuk melawan ketertindasan tersebut. Hal paling sederhana adalah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya hak yang sama dalam kehidupan antara laki-laki dan perempuan. Sastra sebagai media penyampai pesan sampai saat ini masih menjadi hal yang utama bagi sebagian orang. Kritik sastra telah berubah karakter dari suatu “kajian intrinsic kaya sastra, yang terkait dengan struktur artifak verbal” menjadi suatu pendekatan yang menimbang teks dengan konteks sosial dan kulturalnya. Dalam ilmu sastra, feminism ini berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengaahkan fokus analisisnya pada perempuan. Jika selama ini dianggap dengan sendirinya bahwa yang mewakili pembaca dan pencipta dalam sastra adalah laki-laki, kritik sastra feminis menunjukkan bahwa pembaca perempuan membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya. Walaupun karya sastra itu fiksi, namun sastra adalah cerminan dari hal-hal yang ada dan terjadi di masyarakat.

            Dalam penelitian ini karya sastra yang dipakai adalah cerpen berjudul Maria karya A. A. Navis. Seperti penulis-penulis tanah Minang yang lainnya, A. A. Navis pun mengangkat tema perempuan dalam cerpennya. Minang dan perempuan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena perempuan masih sangat terikat oleh budaya di sana. Cerpen ini mengisahkan seorang gadis modern menurut ukuran masa itu. Maria diceritakan sebagai perempuan “beda dari yang lain” dikarenakan penampilan dan gayanya yang tidak pernah ada di lingkungan itu sebelumnya. Sebagai perempuan “beda dari yang lain”, Maria menjadi pusat perhatian laki-laki dan ingin meminangnya. Sebut saja tokoh Aku dan Cok yang mengejar Maria. Maria digambarkan sebagai perempuan yang mendobrak norma dan kebiasaan pada saat itu dengan kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Latar belakang cerita ini adalah pada saat peristiwa PRRI dan Maria akhirnya mati dibunuh dan dianyutkan ke sungai.

            Tokoh utama yang digambarkan sebagai ‘pemberontak’ pasa masanya membuat daya tarik tersendiri. Isu tentang perempuan memang akan selalu ada selagi perempuan masih mengalami ketidakadilan dan ketertindasan. Cerpen ini masih relevan hingga sekarang di mana masih adanya anggapan miring tentang perempuan dan dinomor duakannya perempuan. Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Maria dalam cerpen ini menegaskan secara langsung bahwa ia menginginkan perempuan dipandang layaknya laki-laki dan mendapatkan hak yang sama. Cerpen ini juga merupakan kritik atas realitas yang terjadi di masyarakat.

            Masih banyak lagi tulisan karya Navis yang menohok dan mengangkat isu sosial. faktor lain yang membuat karya-karya Navis memikat adalah latar sosial budaya yang kental. Melalui tulisan-tulisannya kita dapat merasakan kearifan local, khususnya budaya Minangkabau. Tanpa sadar, pembaca akan mengetahui dan memaklumi keputusan dan keadaan yang menimpa tokoh utama. Sastra sebagia media penyampai pesan memilik kelebihan. Dapat menembus semua lini, bahkan politik. Dapat meyampaikan kritik sekaligus bahan bakar semangat perjuangan.

Landasan Teori

            Dasar pemikiran dalam penelitian sastra berperspektif feminis dalah upaya pemahaman kedudukan dan peran perempuan seperti tercermin dalam karya sastra. Kedudukan dan peran para tokoh perempuan dalam karya sastra Indonesia menunjukkan masih didominasi oleh laki-laki. Dengan demikian, upaya pemahamannyamerupakan keharusanuntuk mengetahui ketimpangan gender dalam karya sastra, seperti terlihat dalam realitas sehari-hari masyarakat. Penelitian sastra Indonesia telah melahirkan banyak perubahan analisis dan metodologinya, salah satunya adalah penelitian sastra yang berperspektif feminis. Tampak adanya kesesuaian dalam realitas penelitian sosial yang juga berorientasi feminism. Lebih dari itu, banyak pembaca yang menganggap bahwa peran dan kedudukan perempuan lebih rendah daripada laki-laki seperti nyata diresepsi dari karya sastra Indonesia. (Sugihastuti, 2016:15-16)

            Eksistensialisme merupakan suatu gerakan filosofis yang  mempelajari pencarian makna seseorang dalam keberadaannya. Manusia yang eksis adalah manusia yang terus berusaha mencari makna dalam kehidupannya. Karena berbicara mengenai makna, eksistensialisme tidak memperlakukan individu sebagai sekedar konsep, melainkan menghargai subjektivitas individu jauh melampaui objektivitasnya. Dari segi feminism dilihat bahwa perempuan selalu menjadi objek terutama di dunia yang sifatnya sangat patriarkal ini, maka dari itu salah satu tokoh feminisme yaitu Simone de Beauvoir mengatakan bahwa dunia perempuan selalu akan dimasukkan ke dalam dunia laki-laki sebagai bukti penguasaan laki-laki terhadap perempuan.

            Beauvoir berpendapat tiga hal mengapa perempuan dijadikan objek. Pertama takdir dan sejarah. Melihat adany aalasan-alasan biologis yang dituduh sebagai sebab terobjekannya perempuan, banyak buktu-bukti biologis yang diungkapkan oleh para ahli biologi laki-laki yang mendiskriminasi perempuan, seperti kecilnya volume otak perempuan sehingga perempuan dianggap tidak bisa menerima hal-hal yang eksakta sifatnya. Yang kedua adalah mitos-mitos yang dikenakan pada perempuan, di mana mitos perempuan adalah ibu rumah tangga yang baik yang mengasuh anak-anak di rumah, tidak perlu berkarir di luar rumah. Menurut Beauvoir, laki-laki dapat menguasai perempuan dengan menciptakan mitos bahwa perempuan yang dipuja laki-laki adalah perempuan yang mau mengorbankan dirinya untuk laki-laki. Karena itu, menjadi istri dan ibu adalah dua peran feminine yang membatasi kebebasan perempuan. Ketiga, institusi pernikahan merupakan suatu institusi yang merenggut kebebasan perempuan, di mana perempuan dengan suka rela menukarkan kebebasannya dengan berumah tangga.

Analisis

Cerita pendek Maria karya A. A. Navis meceritakan tentang seorang perempuan bernama Maria yang menjadi “lain dari yang lain” karena penampilannya dan tidak ada yang seperti itu sebelumnya. Seperti cerpen yang lain dalam kumpulan cerpen Jodoh ini, cerpen Maria menceritakan perihal perempuan dan asmara. Diceritakan oleh tokoh Aku, perempuan “lain dari yang lain” itu memikat daya tarik tokoh Aku dan Cok. Namun dalam makalah ini tidak akan membahas lebih jauh perihal asmara tokoh dalam cerpen dan bagaimana kedua tokoh tersebut memperebutkan Maria. Lebih dari itu, dalam makalah ini akan membahas citra perempuan feminis yang diwakilkan oleh tokoh Maria.

Dalam cerpen ini, tokoh utama yaitu Maria digambarkan sebagai perempuan yang kuat dan tidak ingin tertindas oleh kaum laki-laki. Prinsipnya yang kuat tentang persamaan hak terlihat jelas dalam dialog dengan tokoh Aku seperti berikut.

“Aku ingin rumah bersih, halaman bersih. Apa salahnya kalau aku mengerjakannya? Begitupun pekerjaan dapur. Tapi jangan anggap itu pekerjaan khusus perempuan.” (hal. 86)

            Kalimat yang diucapkan oleh Maria merupakan salah satu contoh yang menggambarkan perjuangan yang dilakukan oleh gerakan feminis selama ini. Bahwa pekerjaan rumah seperti bersih-bersih dan urusan dapur bukan melulu kewajiban perempuan. Laki-laki pun bisa melakukan itu. Sebaliknya, pekerjaan yang selama ini dianggap pekerjaan laki-laki, perempuan pun dapat melakukannya. Kutipan di atas sudah dapat memperlihatkan bagaimana tokoh utama membicarakan dan menegaskan kedudukan seorang perempuan di masyarakat khususnya dalam rumah. Ketika tokoh Aku dan Maria membicarakan perbedaan fungsi perempuan dan laki-laki di dalam dan di luar rumah tangga, Maria kembali menunjukkan pandangannya tentang persamaan hak.

“Perbedaan antara laki-laki dengan perempuan hanyalah biologis. Tapi tidak dalam fungsi sosial.” (hal. 86)

            Seperti yang terdapat dalam teori-teori feminis, perempuan dan laki-laki memiliki hak sama dalam kehidupan sosial. Pendidikan, ekonomi, agama, profesi, dan lain-lain. Disebutkan oleh tokoh Aku, bahwa di Minangkabau, semua orang, laki-laki dan perempuan berderajat yang sama, pekerjaan rumah tangga selruhnya adalah tugas perempuan. Laki-laki yang kalah nyali yang mau melakukan pekerjaan rumah tangga. Dapat disimpulkan bahwa pekerjaan yang selama ini identic dengan perempuan bukan semata-mata takdir atau kewajiban seorang perempuan, namun gengsi atau ketidakmauan dari kaum laki-laki untuk mengerjakan pekerjaan itu.

            Perempuan selalu dianggap makhluk yang lemah, dibawah laki-laki, dan terbatasi oleh norma atau budaya yang selama ini berlaku. Pada faktanya, perempuanlah yang seringkali dalam fase hidupnya mengalami hal yang hanya dapat ditanggung oleh perempuan. Anggapan itu hanya semata-mata karena perempuan tidak pernah diberikan kesempatan atau akses untuk melakukan hal tersebut.

“Etiket begitu sudah kuno. Etiket yang berasal dari pandangan bahwa perempuan makhluk lemah, yang harus ditolong. Aku tidak suka itu.” (hal. 86)

            Maria dengan tegas ingin menghilangkan anggapan yang selama ini terikat pada seorang perempuan, yaitu makhluk yang lemah dan harus selalu ditolong. Dicontohkan dalam cerita tersebut, ketika ia tergelincir saat mendaki gunung, ia tidak mau ditolong karena menganggap mampu melakukan sendiri dan tidak ingin dianggap lemah. Prinsip yang dimiliki oleh Maria tentang perempuan adalah makhluk yang kuat sangat terlihat. Ia sangat tidak suka ketika ada laki-laki atau orang lain yang menganggap dirinya lemah. Ia membuktikan bahwa dirinya lebih dari apa yang dipikirkan orang selama ini. Dengan demikian, Maria dapat dilihat dan dapat diakui keberadaannya di masyarakat. Eksistensi Maria sebagai wakil dari perempuan yang sering mendapat pandangan miring dari laki-laki sangat kuat. Perempuan memiliki kesetaraan yang sama dan ingin melepaskan ketergantungannya dari kaum laki-laki.

            Maria adalah sosok perempuan yang tidak terlalu memikirkan dan terbuka tentang masa depannya. Baginya, kalau hari ini hari Rabu, maka kemarin dan besok adalah hari Rabu juga. Dengan kata lain Maria hidup untuk hari ini.

“Suatu hal yang tak berhasil aku korek dari mulutnya, yaitu tentang pilihan masa depannya. Cita-citanya. Keinginannya. Pekerjaannya. Rumah tangga macam apa yang diinginkannya. Suami yang ideal serta jumlah anaknya. Seolah-olah masa depan dengan masa lalu bukanlah hal yang teramat penting jadi bahan pembicaraanya. Sepertinya, kalau hari ini hari Rabu, maka kemarin atau esok adalah hari Rabu juga.” (hal. 87)

            Tokoh Utama tersebut tidak ingin cepat-cepat terikat oleh hubungan rumah tangga yang hanya akan membatasinya. Namun bukan berarti Maria adalah sosok perempuan bebas yang nakal. Maria telah hidup mandiri dan mapan secara ekonomi dan berintelektual. Sebagai seorang yang memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, tentu Maria pun menolak menjadi objek.

“Eee, di waktu perjalanan pulang, dia merangkul dan mencoba mencium aku. Dia pikir aku takkan berteriak karena malu diketahui sopir. Aku memang tidak berteriak. Tapi mencakar mukanya dengan kukuku yang panjang. Rasain lu, kataku dalam hati ketika dia kesakitan tapi tidak berani mengaduh.” (hal. 89)

            Hal tersebut menggambarkan walaupun ia sebagai seorang bawahan di suatu perusahaan dan juga seorang perempuan, bukan berarti atasan dan laki-laki dapat bertindak semaunya terhadap dirinya. Setiap perempuan memiliki otoritas atas tubuhnya. Maria tidak ingin tunduk terhadap budaya patriarki di mana laki-laki di atas segala-galanya. Ia telah menentukan sikap apa yang harus dilakukan. Perempuan seperti Maria adalah contoh kecil yang diimpikan oleh gerakan feminism.

            Contoh lain prinsip Maria yang tidak mau dijadikan objek bagi laki-laki dan pemikirannya tentang kedudukan yang sama terdapat pada kutipan berikut

“Mengapa setiap atasan mesti memperlihatkan keperkasaannya? Padahal mereka toh sama jadi orang gajian negara. Mengapa laki-laki tidak memandang pegawai perempuan itu sama dengan laki-laki secara sosial? kalau saling jatuh cinta, itu normal. Tapi, jika ingin menggagahi atau menyalukan birahi, sungguh tidak beradab.” (hal. 89-90)

            Menunjukan bahwa secara sosial, Maria adalah perempuan yang mendobrak norma atau budaya yang selama ini telah dibangun. Ia menginginkan selain hal biologis, laki-laki dan perempuan diperlakukan dan mendapatkan hak yang sama. Perempuan tidak lebih tinggi apalagi lebih rendah, melainkan setara. Tentu bukan hal yang bisa terwujud hanya dengan satu peremuan yang memperjuangkan hal tersebut. Dibutuhkan kesadaran dan pemikiran kritis akan hal itu. Tidak hanya perempuan, laki-laki pun seharusnya melakukan hal yang sama soal kesetaraan tersebut.

            Ketika salah satu tokoh dalam cerpen tersebut yaitu Delly hamil dikarenakan hubungannya dengan laki-laki yang bukan suaminya, Maria merasa marah. Terlebih saat tokoh Aku menyalahkan perempuan untuk kasus tersebut. Maria terpancing jadi panas.

“Laki-laki selalu berkata begitu. Semua kesalahan pada perempuan. Perempuanlah yang menghancurkan dunia. Perempuanlah yang menyebabkan laki-laki korupsi, menyeleweng, mengingkari sumpah. Semua laki-laki bilang, bahwa perempuan sama jahatnya dengan judi, mabok, madan, dan maling. Semua laki-laki bilang, termasuk kau, bahwa laki-laki itu bernaluri poligamis. Karena itu perempuan jangan memancing. Tak ada laki-laki yang ingat bagaimana hati perempuan, seperti Delly, bila dirayu atau digagahi bosnya sendiri? Ah, muak aku membicarakannya.” (hal. 91)

            Perempuanlah yang dituduh atas biang kesalahan yang terjadi selama ini, hal itu terjadi dari dulu hingga sekarang. Perempuan selalu menjadi kambing hitam dalam setiap kasus kekerasan yang dialami. Anggapan bahwa laki-laki tidak akan seperti ini jika perempuan tidak seperti itu adalah sesuatu yang ingin Maria lawan. Bahwa laki-laki melakukan kesalahan karena ia manusia, bukan karena perempuan. Hal inilah dalam cerpen yang membuat Maria murka terhadap laki-laki.

            Walaupun Maria selalu membicarakan kesetaraan dan hak yang sama antara laki-laki dan peremuan, bukan berarti perempuan seperti Maria tidak membutuhkan sama sekali laki-laki dalam hidupnya. Hal tersebut ditunjukkan saat ia akhirnya menikah dengan Cok dan tokoh Aku berkata

“Tak kuduga seorang gadis yang emansipatif, masih memerlukan laki-laki yang mampu memerintah dia.” (hal. 92)

            Secara tidak lansung kalimat tersebut adalah bentuk dari rasa kecewa dan kekalahan dari tokoh Aku yang tidak dapat mendapatkan Maria. Dalam hal memilih calon suami, Maria lebih memilih laki-laki yang dapat memerintah ia mengerjakan sesuatu. Berlawanan dari apa yang sering dibicarakan oleh Maria soal laki-laki dan perempuan.

Simpulan

            Sastra kaitannya dalam kehidupan sosial merupakan hal yang saling terikat. Apa saja yang terdaat dalam karya sastra merupakan sesuatu yang ada dalam masyarakat. Kritik sastra feminis dalam dunia kritik sastra adalah terobosan yang mampu menarik perhatian. Isu-isu dan tema perempuan yang seringkali diangkat dalam karya sastra memiliki kelanjutan dari sekadar dibaca dan dipahami. Lebih dari itu, sastra mengajak untuk memahami ideologi atau pemikiran yang ada dalam karya sastra tersebut. Penulis, tokoh, ataupun lingkungan sekitarnya. Maria hanya salah satu contoh dari banyaknya tokoh perempuan yang memperjuangkan kesetaraan dan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. Perjuangan gerakan feminis tidak akan berhenti selama masih adanya kekerasan terhadap perempuan, ketimpangan dalam dunia kerja, pendidikan, dan ekonomi.

Daftar Pustaka

Mulyadi, Budi. 2018. Menyibak Citra Perempuan Dalam Cerpen “Maria” (Sebuah Kajian Sastra Feminisme). HUMANIKA Vol. 25 No. 2. Diambil dari: http://www.researchgate.net/publication/329536133_MENYIBAK_CITRA_PEREMPUAN_DALAM_CERPEN_MARIA_SEBUAH_KAJIAN_SASTRA_FEMINISME  (17 Juni 2019)

Navis, A. A. 2018. Jodoh. Jakarta: Grasindo

Sugihastuti dan Suharto. 2016. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta:
            Pustaka Pelajar